Kepada Para Pengunjung

Hallo semuanya, ini merupakan blog bagian pertama ku. Kalian bisa melihat cerita saya dan lainnya. Oh yang belum kenalan tentang saya, lihat di profil saya.

Catatan : Setelah membaca artikel saya, dimohon untuk berkomentar di blog saya.

Note for english people : If you don't know about my language you can translate my language in This Link . Some word can't translate. Because, several word are Indonesian Style language.


Note : If you translate it, text will look funny. Enjoy reading

Translate This Blog

Sabtu, 23 Agustus 2014

Arti Identitas Penomoran Lokomotif Kereta Api di Indonesia

Dalam postingan kali ini, saya akan membahas singkat mengenai arti penomoran lokomotif kereta api yang ada di Indonesia. Biasanya ketika kita melihat atau sedang naik kereta api, kita sering sekali melihat adanya identitas yang tercantum pada kabin luar lokomotif. Seperti BB 201 64 11, CC 201 13 21, CC 206 13 91 dan lain-lainnya. Kita sendiri tidak tau maksud dari identitas di setiap nomor itu apa. Nomor-nomor yang ada di lokomotif tersebut merupakan identitas yang dimiliki masing-masing lokomotif. Bagi yang tidak tau, saya memberikan beberapa informasi mengenai maksud dan identitas penomoran lokomotif kereta api yang ada di Indonesia dari beberapa sumber yang saya temui.

Sistem Penomoran Lokomotif Kereta Api di Indonesia memiliki format umum di setiap lokomotifnya. Formatnya itu kurang lebih diwarnakan seperti ini:

XX XXX XX XX

Pembacaan arti atau maksud penomoran lokomotif kereta api di Indonesia yang sebenarnya dipisah seperti berikut:

XX-X-XX-XX-XX

dengan:
XX = Jumlah gandar penggerak dalam huruf dan banyaknya penggunaan bogie ditentukan oleh banyaknya huruf yang tercantum pada lokomotif tersebut.
X-XX = Klasifikasi lokomotif. Dengan X merupakan peralatan penerus daya dalam angka yang dimiliki oleh lokomotif dan XX merupakan seri atau tipe lokomotif dalam angka.
XX = Tahun lokomotif mulai dioperasikan atau dinas dalam angka.
XX = Nomor urut lokomotif dalam angka.

Jumlah gandar penggerak dalam huruf dibagi menjadi beberapa klasifikasi berikut:
1. A untuk 1 gandar penggerak
2. B untuk 2 gandar penggerak
3. C untuk 3 gandar penggerak
4. D untuk 4 gandar penggerak

Untuk mengetahui banyaknya penggunaan bogie suatu lokomotif dilihat dari banyaknya huruf yang tercantum pada lokomotif.

Peralatan penerus daya pada lokomotif dibagi menjadi beberapa klasifikasi berikut:
1. 1 = lokomotif diesel
2. 2 = lokomotif diesel elektrik
3. 3 = lokomotif diesel hidrolik
4. 4 = lokomotif diesel antara elektrik dan hidrolik

Seri atau tipe lokomotif dalam angka memiliki bentuk dan spesifikasi tersendiri dari nomor serinya. Sehingga bisa dilihat secara langsung bentuk lokomotifnya seperti apa serta spesifikasi yang dimiliki lokomotif tersebut.

Tahun lokomotif mulai dioperasikan atau dinas dalam angka biasanya diambil 2 angka terakhir. Dalam perkembangan penomoran lokomotif di indonesia terdahulu biasanya tidak mencantumkan tahun lokomotif mulai dioperasikan. Namun seiring berkembangnya waktu dilakukan penomoran tentang tahun lokomotif mulai dioperasikannya untuk mengetahui sudah berapa lama lokomotif itu dioperasikan sehingga dapat diketahui kemampuan dan kekuatan lokomotif berdasarkan perkembangan umur dan penggunaannya.

Nomor urut lokomotif dalam angka biasanya dicantumkan berdasarkan urutan dioperasikannya suatu lokomotif berdasarkan hasil uji atau sertifikasi layak pakai. Terkadang juga nomor urut lokomotif ini dicantumkan berdasarkan urutan diproduksinya lokomotif atau tibanya lokomotif di Indonesia.

Penomoran lokomotif kereta api di Indonesia pada zaman dahulu memiliki format sebagai berikut:

XX XXX XXX

dengan:
XX = Jumlah gandar penggerak dalam huruf dan banyaknya penggunaan bogie ditentukan oleh banyaknya huruf yang tercantum pada lokomotif tersebut.
XXX = Klasifikasi lokomotif. Dengan X merupakan peralatan penerus daya dalam angka yang dimiliki oleh lokomotif dan XX merupakan seri atau tipe lokomotif dalam angka.
XXX = Nomor urut lokomotif dalam angka.



Sebagai contohnya ketika kita melihat sebuah kereta api yang melintas dengan nomor identitas lokomotif tercantum CC 201 12 01. Cara membacanya, bisa kita pisahkan berdasarkan contoh warna seperti ini:

CC 201 12 01 
  
artinya:
CC = menggunakan 2 bogie (karena huruf C-nya ada 2) dengan masing-masing 3 roda penggerak
2 = lokomotif diesel elektrik
01 = seri lokomotif tipe 01
12 = mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2012
01 = nomor urut ke-01

Contoh lainnya dapat dilihat pada gambar berikut:



Lokomotif CC 206 13 24
Sumber: http://agussetya.blogspot.com/2013/10/lokomotif-cc206.html

artinya: 
CC = menggunakan 2 bogie (karena huruf C-nya ada 2) dengan masing-masing 3 roda penggerak
2 = lokomotif diesel elektrik
06 = seri lokomotif tipe 06
13 = mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2013
24 = nomor urut ke-24

Lalu bagaimana dengan lokomotif dengan gambar sebagai berikut?

 Lokomotif BB 304 23
Sumber: http://railfansdaop9jr.blogspot.com/2011_11_01_archive.html

artinya:
BB = menggunakan 2 bogie (karena huruf B-nya ada 2) dengan masing-masing 2 roda penggerak
3 = lokomotif hidrolik
04 = seri lokomotif tipe 04
23 = nomor urut ke-23

Jika kita memperhatikan di setiap lokomotif dibawah identitas nomor lokomotif. Terdapat tulisan, "DIPO LOK XXX" atau "DIPO INDUK XXX". Tulisan tersebut merupakan tanda dipo induk tempat kedudukan lokomotif. Tanda induk tempat kedudukan lokomotif merupakan tanda mengenai tempat asal kedudukan lokomotif itu berada. XXX merupakan kode stasiun tempat kedudukan dipo lokomotif. Contohnya dibawah penomoran lokomotif tertulis "DIPO LOK JNG" artinya tempat asal kedudukan lokomotif itu berada di dipo Jatinegara. Contoh lainnya berserta penomoran lokomotif dapat dilihat pada gambar berikut:


 Lokomotif CC 204 08 09
Sumber: Ada pada foto.


artinya:

CC = menggunakan 2 bogie (karena huruf C-nya ada 2) dengan masing-masing 3 roda penggerak
2 = lokomotif diesel elektrik
04 = seri lokomotif tipe 04
08 = mulai dioperasikan di Indonesia tahun 2008
09 = nomor urut ke-09
dengan tempat kedudukan asal lokomotif berada di Dipo Bandung.


Sekian postingan dariku, jika ada kekurangan dan kelebihan akan segera dilakukan perbaikan. Terima kasih.
 

Minggu, 10 Agustus 2014

Cara ke Sadang Terminal Square (STS) dengan Naik Kereta Api

Sadang Terminal Square (STS) merupakan mall yang terletak di wilayah Sadang, Kabupaten Purwakarta. Satu-satunya mall yang ada di sekitaran Purwakarta. Bukan berarti hanya ada satu tempat pembelanjaan ditempat itu. Melainkan ada yang lainnya. Dalam postingan ini, saya hanya menjelaskan cara-cara ke Sadang Terminal Square (STS) dengan naik kereta api. Berikut ini kalian bisa turun di stasiun berikut:

1. Stasiun Sadang (Halte Kereta Api Sadang)

Stasiun Sadang atau Halte Kereta Api Sadang hanya dapat diakses dengan menggunakan kereta api lokal Purwakarta, baik dari arah Jakarta Kota maupun arah Purwakarta karena kereta api lokal Purwakarta adalah satu-satunya kereta yang masih berhenti di Stasiun Sadang atau Halte Kereta Api Sadang.

Dari stasiun Sadang, jalan ke arah flyover jalan raya. Dari flyover tersebut sudah tersedia angkot warna Biru-Kuning (Purwakarta-Sadang-Cikampek), naik angkot itu dan turun di perempatan lampu merah Sadang Terminal Square, maka dengan menyebrangi jalan raya atau perempatan sudah tiba di
Sadang Terminal Square. Biaya hanya 2000-3000 dan perjalanan memakan waktu sekitar 2-5 menit.

Namun apabila di tempat flyover tidak ada angkot warna Biru-Kuning yang berhenti disitu, jalan menanjak ke ujung flyover lalu tunggu angkot warna Biru-Kuning (Purwakarta-Sadang-Cikampek) atau angkot 02 warna Merah-Biru (Pasar Simpang-Sadang), untuk angkot warna Biru-Kuning turun di perempatan lampu merah Sadang Terminal Square dilanjut menyebrangi jalan raya atau perempatan, akhirnya tiba di Sadang Terminal Square. Untuk angkot 02 warna Merah-Biru tidak perlu menyebrangi jalan karena angkot itu langsung mengantarkan kedepan Sadang Terminal Square. Biaya hanya 2000-3000an dan perjalanan memakan waktu sekitar 2-5 menit.

Jika tidak mau menggunakan biaya transportasi angkot ke Sadang Terminal Square, cukup jalan kaki hingga ke Sadang Terminal Square. Dari stasiun Sadang atau Halte Kereta Api Sadang jalan menuju flyover dan menanjak menuju ujung flyover, jalan lurus mengikuti jalan raya hingga bertemu dengan perempatan lampu merah Sadang Terminal Square (STS). Tepat didepan mata terlihat Sadang Terminal Square, tinggal menyebrangi jalan dan akhirnya tiba di Sadang Terminal Square. Perjalanan memakan waktu sekitar 7-15 menit.

2. Stasiun Purwakarta

Stasiun Purwakarta dapat diakses dengan menggunakan KA Serayu, KA Lokal Cibatu, KA Lokal Purwakarta, KA Argo Parahyangan, KA Ciremai Ekspress, dan KA Harina. Baik dari arah Cikampek/Cirebon/Jakarta Kota, maupun dari arah Bandung.

Dari stasiun Purwakarta (arah masuk stasiun Purwakarta), jalan lurus hingga bertemu jalan raya, menyebrangi jalan raya kemudian naik angkot 01 warna Merah-Hijau (Pasar Simpang-Sadang (STS)) dan turun di Sadang Terminal Square (Yang terdapat gedung besar berwarna merah bertuliskan STS Sadang, setelah melewati SMAN 2 Purwakarta jika naik angkot 01 warna Merah-Hijau dari samping kiri). Dengan menyebrangi jalan raya maka sudah tiba di Sadang Terminal Square. Biaya sekitar 3000an dan perjalanan memakan waktu sekitar 25-30 menit. Jika kamu naik angkot 01 warna Merah-Hijau tidak menyebrang jalan maka akan membuang waktu karena angkot ini memutar jalan Situ Buleud untuk mencari penumpang yang ingin berjalan ke Sadang Terminal Square melewati jalan Cimaung.


Cara lain dari stasiun Purwakarta apabila malas menyebrangi jalan raya, bisa naik angkot 02 warna Merah-Biru (Pasar Simpang - Sadang (STS)) kemudian turun di Sadang Terminal Square. Tidak perlu menyebrangi jalan karena sudah didepan Sadang Terminal Square. Biaya sekitar 2000-3000an dan perjalanan memakan waktu sekitar 15-20 menit.

N.B: Angkot 01 warna Merah-Hijau dan 02 warna Merah-Biru memiliki relasi tujuan yang sama di daerah Purwakarta ini. Namun yang berbeda bahwa angkot 01 dan angkot 02 berjalan satu arah saja, tidak bolak-balik, dengan kata lain relasi angkot 01 warna Merah-Hijau dan angkot 02 warna Merah-Biru melakukan loop relation. Jika angkot 01 warna Merah-Hijau start dari Pasar Simpang maka ke Sadang Terminal Squarenya melewati jalan Cimaung, dan dari Sadang Terminal Square tidak memutar balik melainkan berjalan melewati flyover Sadang, Universitas Pendidikan Indonesia dan tiba ke Pasar Simpang. Sementara jika angkot 02 warna Merah-Biru start dari Pasar Simpang maka ke Sadang Terminal Squarenya melewati jalan via kampus Universitas Pendidikan Indonesia dan flyover Sadang, dan dari Sadang Terminal Square tidak memutar balik melainkan berjalan melewati jalan Cimaung dan tiba ke Pasar Simpang.

Aku sendiri memilih naik angkot 02 warna Merah-Biru jika dari stasiun Purwakarta dikarenakan waktu tempuh yang cepat (15-20 menit) dibandingkan angkot 01 warna Merah-Hijau yang harus melewati jalan kecil dan jalan Cimaung (25-30 menit) jika ingin ke Sadang Terminal Square. Apabila ingin kembali ke stasiun Purwakarta atau stasiun Sadang dari Sadang Terminal Square, aku memilih naik angkot 01 warna Merah-Hijau karena waktu tempuh yang cepat (15-20 menit) dibandingkan naik angkot 02 warna Merah-Biru (25-30 menit), kecuali untuk ke stasiun Sadang sepertinya tidak perlu naik angkot 02 karena hanya memakan waktu sekitar 55 menit dikarenakan hanya memutar relasi saja.


Rabu, 30 Juli 2014

Puisi Menurut Bentuknya

Berikut ini terdapat beberapa macam jenis puisi menurut bentuknya berserta contoh puisi dan pengarangnya.


1. Distikon
Puisi Distikon adalah puisi yang masing-masing baitnya terdiri dari atas 2 baris. Biasanya puisi ini berada pada berirama akhri. 

Contoh puisi distikon :

Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal

Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)

2. Terzina
Puisi Terzina adalah puisi yang masing-masing baitnya terdiri dari atas 3 baris. Puisi Terzina bukan berarti puisi yang sudah dizinakan atau dikotorkan.

Contoh puisi terzina :

Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana

Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
(Sanusi Pane)

3. Kuartrain
Puisi Kuartrain adalah puisi yang masing-masing baitnya terdiri dari atas 4 baris.

Contoh puisi kuartrain :

Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

4. Quintet

Puisi Quintet adalah puisi yang masing-masing baitnya terdiri dari atas 5 baris

Contoh puisi quintet :

Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan

Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan

Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)

5. Sektet
Puisi Sektet adalah puisi yang masing-masing baitnya terdiri dari atas 6 baris

Contoh puisi sektet :

Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)

6. Septima
Puisi Septima adalah puisi yang masing-masing baitnya terdiri dari atas 7 baris

Contoh puisi septima :

Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)

7. Oktav / Stanza
Puisi Oktav atau Stanza adalah puisi yang masing-masing baitnya terdiri dari atas 8 baris atau puisi yang memiliki bait.

Contoh puisi Oktav :

Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)

8. Soneta
Puisi Soneta puisi yang berasal dari kesustraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.

CIRI – CIRI SONETA :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d

Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)

B. FUNGSI SONETA
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan

C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.

D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi atau kesimpulan.

2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
a. Soneta puisi asli Italia, Pantun puisi asli Melayu
b. Satu bait Soneta terdiri terdiri dari 14 baris, satu bait Pantun terdiri atas 4 baris
c. Soneta berima bebas, pantun berima a-b-a-b
 

Puisi Menurut Isinya

Berikut ini terdapat beberapa macam jenis puisi menurut isinya berserta contoh puisi dan pengarangnya.


1. Balada
Puisi Balada adalah Puisi yang sederhana yang mengisahkan cerita rakyat yang mengharukan. Biasanya, puisi ini selalu menceritakan mengenai rakyat dan mempunyai unsur kemasyarakatan pada wilayah tertentu.

Contoh puisi balada :

Seperti Kemala, di kemit pekat
Rampas waktu sejenak,
Untuk melinangkan air mata.. .
Apakah harus menanti hujan ?
Agar bumi basah tuk sejenak saja.
Siasati kemauan rasa, rasa sakral yang tabu.
Lampion kecil terhempas ke pantai
Telacak pasir pantai, ombak menyapa perih.
“mengapa kau kejar sesuatu yang tak mungkin kau dapatkan?”
Lantunan harmoniku cukup
(Mega Diza)

Kenapa tanah disini merah?
Begitu aku bertanya ketika kami tiba dari Rusia..
Ayah tersenyum penuh rahasia
Inilah salju  Jakarta
Tanah disini
Banyak mengandung besi
Berarti kuat dong, aku tertegun
Iya nak, kuat untuk dibangun

Lihatlah sekelilingmu
Dimana-mana generasi muda dan tua
Membawa map dan buku guna menuntut ilmu
Untuk membangun bersama
Indonesia,
repulik yang masih muda
tak peduli apakah  pemuda rakyat atau hmi
yang penting kita bersama berdiri
diatas tanah merah ini.
Bahkan banyak yang rela untuk pergi
Ke luarnegeri, demi belajar serta
Rasa hormat dunia  untuk pertiwi

Anakku, jangan kau lupa
Tanah airmu itu kaya
Harta karun tak terhingga
Terkandung di dalam perutnya
Dan hanya dengan ilmu
Kami simpan untuk generasimu

Demikian aku mulai hidup
Di atas tanah merah jakarta
Mencari diri dan membentuk
Seperti pemuda dimana-mana
Menempa besi menjadi baja.

Tetapi aku masih terlalu kecil
Ketika tiba-tiba terjadi
Peristiwa yang aku belum mengerti

Di suatu hari yang cerah
masih nampak biru
Warna langit pagi
Tanah menjadi lebih merah
Karena terkuak  gerigi
Roda tank- tank yang menderu
Dan tanpa disangka
Kampungku Gang Rambutan
Di pinggir jalan pasar Minggu
Masuk kedalam neraka

Kakiku masih melangkah
Tak sadar ke arah sekolah..
Tetapi di kiri kanan jalanan
Oh Tuhan..
Kenapa ini boleh terjadi
Seperti mimpi yang ngeri..
Mengapa Engkau pergi
Meninggalkan tempat ini?

Sementara itu terlihat
Dari segala penjuru
Bergerombol  banyak pemuda
Berbaju pencak silat
Dengan menabuh gendang
Dan berteriak Allahu Akbar!

Seketika itu suasana keruh
Rumah penduduk setempat diserbu
Gendang masih terdengar ditabuh
Kali ini tercampur  teriakan pilu!

Wanita dan pria diseret keluar
Ditendang,digebuk,rambut terurai dicambuk
Rumah-rumah sudah siap dibakar
Sambil berteriak Allahu Akbar..!

Aku seperti terpaku berdiri
Tak tahu harus terus atau kembali
Tiba tiba seorang ibu berlari padaku
Tiarap! Tiarap neng, jangan  tegak begitu!
Ia tutupi aku dengan selendang
Selendang yang panjang dan agak usang..

Tak tahu berapa lama kami bongkok sembunyi

Aku sempat melihat satuan PM datang
Mencoba mengembalikan ketertiban
Dari jauh terdengar tangisan bayi
Mungkin tanpa ibu, ditinggal sendiri..

Suasana jadi sangat sunyi
Dari jauh terdengar azan menyanyi
Seakan tak ada suatu terjadi
Begitu damai membelai di hati

Aku beranikan diri keluar dan lari
Lari dan lari tanpa nengok ke belakang
Kanan kiri sepanjang jalan
Nampak hanya reruntuhan

Didepan rumah orang-orang berkerumun
Hatiku terasa pilu bergetar
Dari mereka aku mendengar
Penggerebekan di sekitar kampung
Masih terus berlangsung

Penangkapan mulai terjadi
Aku nangis didada ibu
Pucat dengan rambut kusut
Airmata panas mengalir menyengat pipi
Mengapa Malam Kristal terjadi disini?

Rumah kami pula hancur
Buku campur alat dapur
Porakporanda dihalaman
Kapuk putih bagaikan salju
Bertebangan dari kuakan kasur

Orang tuaku hari itu dijemput
Bisu, gelapnya malam bagai selimut
Berhenti dua truk,seperti bayangan
Sosok-sosok bertopi baja mengepung halaman

Ibunda masih sempat berbisik mesra
Kuatlah anakku Dinusjka
Ini hanya sementara
Pasti kami pergi tak lama
Kita tak salah, kebenaran ada dipihak kita!

Tersedu susah melepas pelukan
Aku dan kakak ditinggal ditengah malam
Didepan rumah yang sudah hancur
Dengan hanya berbekal: harapan

Satu hal lagi pesan ibu
Jangan mudah membuka pintu
Kalau ada kenalan kami datang
Lebih baik kalian diam
Kini berkuasa jaman edan
Teman sendiri menjadi lawan

Dan diluar betul kata ibu
Suasana semakin tidak tentu
Tank-tank berdiri ditiap sudut jalan
Patroli PM kontrol terus jam malam

Di siang hari tank-tank menderu berang
Truk-truk penuh tentara bertopi baja
Senapan-senapan terhunus mengancam
Sambil bergelak ketawa seram
Menembak keatas, anjing dan ayam

Seolah-olah ini tanah
Masih kurang berwarna merah
Sehingga perlu ditambah
dengan
Lebih banyak tumpahan darah

Tak terasa empat bulan berlalu
Kami tetap di rumah mencoba survive
Dan tetap menunggu
Mengharap saat kembalinya ayah ibu

Tetangga banyak membantu
Kami ditampung beberapa waktu
Tukang sayur selalu datang
Dengan gratis memberi sayuran
Dan aku selalu menyesal
Aduh Bang belum ada uang..
Ngga apa Neng, gampang, bayar kapan-kapan..

Tetapi pada suatu hari
Pintu degedor bertubi-tubi
Rumah ini telah disita, kamu harus keluar segera!
Jangan coba membawa barang suatu apa,
Ini semua telah milik negara!

Begitu cetus ia menghardik
Seorang kapten bernama Basuki
Terasa matanya ciut membidik
Badanku yang belum mulai puber

Ia komando pada mereka
Yang bersesak penuh dalam truk tentara
Semua pemuda berbaju hitam
Ini masih kecil kok, nggak perlu dihantam!

Awasi saja jangan  mereka bawa barang
dan jaga ketat pintu belakang!
Dan kalian, anak-anak orang PKI
Jangan kira terlepas dari kami
Komunisme, seperti syphilis
Sampai tujuh turunan harus dibasmi!

Aku terduduk lemas, harus kemanakah kami?
Sedangkan sanak famili dengan panik lari
Menjauh, tak berani, meskipun aku bisa mengerti
Tiba-tiba kami jadi paria, anak-anak penjahat
Jari telunjuk menunjuk, menusuk
Jauhi mereka, jangan dekat
Mereka telah dikutuk Tuhan!
Gara-gara ikut Komunis, ilmu setan!

Jaman memang berubah, tidak seperti dulu
Moral berjungkir balik dalam sekejap mata
Apa yang dulu baik, kini menjadi tercela
Mode ‘orang kaya baru’
merajalela

Muncul di mana-mana tante bergaya girang
Bibir bergincu merah dan berbadan sintal
Memakai celana jengki, rambut disasak tinggi
Jalan melenggang dengan bedinde belanja di pasar pagi

Om-om senang menyelusur jalanan dengan jip kantor
pada waktu kantor, ini memang moral koruptor
Matanya buas mencari mangsa
Gadis-gadis  yang belum dewasa

Isteri tentara,kopral dan sersan
Mendadak kaya,bergaya nyonya besar
Isteri jendral dan overste berlomba-lomba
Membeli titel aristokrat
berdarah biru, seakan malu,
Kalau merah berarti merakyat

Tanah merah aku tetap teringat
Tanah Jakarta yang semakin padat
Makin sedikit buatnya untuk merasa bebas
Semakin sedikit ia bisa bernafas

Sampai kini kubertanya setiap hari
Mengapa tanah merah yang aku ingat
Tidak buat manusia menjadi kuat?
Kuat untuk terus semangat, mencari jatidiri
Dan tidak saling membenci dan khianat?
(Dini Setyowati)

2. Hina
Puisi Hina adalah Puisi yang rendah kedudukannya, rendah derajat atau martabatnya. Biasanya puisi ini digunakan untuk menghina seseorang. Atau menghina sesuatu. Unsur yang dimilikinya ialah unsuer kekerasan dan tercela.

Contoh puisi hina :

Aku ini manusia hina
Mencari manisnya dunia
Mengagumi dunia fana
Menjelajah enaknya dosa

Aku ini merasa hina
Sebab putih tlah terjamah
Putih bening tlah jadi arang
Hitam legam tersesat dalam kelam
Aku ini merasa hina
Tersungkur kekal dalam sesal
Mengubur diri yang tlah kelam
Mengharap Pencipta lepaskan diri dari fana
(Khairul Muas)

Picik tutur kata di skitar,
tatap tatap penuh fitnah menghakimi,
caci maki sumpah serapah menyumpal telinga,
mengikis ketegaran jiwa hingga jugrug.
TerperosokKu… kedalam lembah nan pekat,
seperti dalam gorong2 yg berbau anyir,
di tempat ternista alam mayapada.

InginKu bangkit kembali…
Merangkak di jalan setapak penuh duri,
bergelantung d akar tuk capai puncak,
menyongsong merekahNya sang mata jagat.

Inginku tegak kembali…
menghirup kembali norma2 kebenaran,
dan teriakan teriakan kebebasan penuh mulia.
(Ayu Wulandri)

3. Ode
Puisi Ode adalah Puisi untuk pujian terhadapa seseorang, benda, peristiwa yang dimuliakan. Puisi Ode merupakan sejenis puisi yang dipersembahkan untuk menyanjung seseorang, atau hewan, atau benda. Pada sebuah ode emosi sajak ditata sedemikian hingga terasa meningkat dari bait ke bait, dan dengan demikian terasakan kedalaman perasaan yang mewakili ekspresi dan curahan pemikiran atau perenungan.

Contoh Puisi Ode:

panas surya mecah pandangan
tapi tak cukup kaburkan wajah anak istri
keras laju motor beradu bising angkutan
tapi deru perut yang lapar yang tak pernah diam

lalu diri tercebur dalam pabrik-pabrik
membakar raga dan perasaan hangus
terpanggang bagai ikan di panggangan
hingga matang, hingga para bos berebut
yang telah matang

jiwa ini telah lunglai, badan ini sudah loyo
berharap anak+istri datang membelai,
lepaskan kelelahan, basuhi kekeringan,
Oh...hidup telah mulai lagi
Dan tuhan sudah mulai tertawa
(Fitrah Nugraha)

dalam diriku masih tertinggal darahmu
bau nafasmu yang selalu terkenang
menyusur kemana aku melangkah
sudah berapa sabun habis terpakai?

kata-kata kotormu masih menempel
mengacuhkanmu hanya sia-sia
karena bayang wajahmu penuhi langit otak ini
berapa lama ingatanku tentangmu bisa lepas?

lalu aku benamkan ceritamu dalam kakus
hingga penghabisan
hingga kau tak panggil lagi namaku
hingga kau menemukan tempat buat kembali
(Fitrah Nugraha)

4. Satire
Puisi Satire adalah puisi yang mempunyai unsur sindiran atau ejekan. Dalam puisi ini, unsur yang sering muncul dalam puisi ini adalah sindiran atau ejekan karena menyebutkan nama sesuatu hal atau kesal terhadap sesuatu.

Contoh puisi satire :

Gerangan kelabu rembulan
Getaran terjadi berbulan-bulan
Gersangan dengan imbalan
Gurauan berangka sembilan

Tiraian karpet diguling
Burung bermain suling
Laut menjadi bunting
Otak menjadi sinting

Hujan turunkan tangis
Galak merpati yang bengis
Tetesan air yang ngis-ngis
Payung yang menangkis

Apa gunanya sajak yang aneh
Ritma Ritme begitu sama
Tersungkurnya otak ke empang
Urut badan menyutra selendang

Tugas macam apa ini
Membuat kode yang begitu sulit
Terkumpul hari ini
Membuat air seni berbelit-belit
(Wahyu Dwi Lesmono)

Pagi hari yang sunyi
Kau temani diriku
Ku hisap kau pelan-pelan
Kau masuki setiap inci paru-paruku

Kurelakan tubuhku kau rasuki
Ku tahu itu
Ku rasakan itu

Kopi cinta sebagai pasanganmu
Menemani hari-hariku
Tak lebih tak kurang
Penghancur pelan
Dengan nikmat sesaat

Makin ku hisap dirimu
Makin tak kuasa ku tolak
Walau ku sadar kau wahai racun jingga
Yang mengotori setiap tetes darahku

Aku harus berhenti menjadikanmu teman
Kau harus kutinggalkan di hari-hariku kini
Walau dalam kesendirianku
Dalam kesunyian dan kesepian
Aku yakin aku bisa
Selamat tinggal racun jingga
(Alip Purwardono)

5. Romansa
Puisi Romansa adalah puisi yang memiliki ciri khas tindakan, kepahlawanan, kehebatan, dan beberapa unsur romantis. Biasanya puisi ini mengandung rasa romantis saat membaca dan mendengarkannya.

Contoh puisi romansa :

Sempurnakan jerit setangkai bunga
Agar mimpi jangan gelisah
Waktu pagi dibasuh tangisan kecil
Tapi aku tak ingin siapa pun
Mengusik ujung kelopaknya
Sebab setiap tetes embun
Adalah suara rintihan riwayat
Kerinduan

Tak perlu jambangan
Sebab akulah jambangan setiap rintihan
Tuhan kutaruh keyakinan
Jangan kau sembunyi di balik anganangan
(Arsyad Indriadi)

Di bawah bulan kau asyik merajut perca sutra
Kupetikan melati di antara meihwa
Angin Gobi berembus di daratan Indonesia
Tapi kau telah melahirkan seekor Hong

Di bulan Desember kau berikan segalanya
dalam tiupan sembilanbelas lilin merah padaku
dan setiap pagi
kita takjub mendengar kicaunya

Sejak ia tersesat di hutan Yang Liu
dan tak pernah kembali lagi Sui Lan
Sejak itu pula tak pernah lagi
kudengar nyanyian Chun Chiu

Dalam malam yang kelam
ranjang tak pernah lagi memberi arti
Di mata terpejam aku bangkit
dari serbuk bintangbintang
Kutatap pucuk hutan pinus
dan tenggelam di sungai Yang Tze
(Arsyad Indriadi)

6. Elegi
Puisi Elegi adalah puisi mengandung ratapan duka atau unsur sedih. Biasanya puisi elegi ini menyangkut sebuah subjek atau objek yang mempunyai unsur duka atau sedih.

Contoh puisi elegi :

Ketika cintamu datang seketika
Biarkan dia datang untukku
Bukan untuk saat ini saja
Tapi untuk selamanya

Rasa adalah milikmu
Penantian adalah milikku
Hingga saatnya dipersatukan
Dalam satu ikatan

Akankah rasa itu ada untukku
Atau hanya sekilas lintas
Bagai helai daun yang dihempas angin
Jauh lalu jatuh ke lain hati
Namun asaku berharap
Sebagai persinggahan terakhirnya

Bulan tertutup awan kelam
Di separuh malam yang dingin dan sunyi
Aku terdiam dan termenung
Menatap esok penuh tantangan
Akupun tetap pasrah
Menanti cinta yang tak kunjung tiba
(Abdul Yunus)

Selepas sepi kembali menggenggam,
suara nafiri sengkala rindu mengayun ufuk waktu.
Lengkingnya merobek senyap membacakan bait-bait sejarah cinta kita dimasa-masa lalu.
Di kamar ini ada tanya tak berjawab dan jerit tak terucap..
Mensyaratkan rindu syahdu yang dihempas ombak tanpa pantai.
Kapan dapat menuntun khidmat hayatku,
Jika takdir tak berpihak kepada kehendak bersamamu.
Hanya letih dan jenuh yang bisa setia menemani sementara aku dan diriku bercakap-cakap.
Saat malam beranjak meninggi, Hanya rembulan
syahdu memandang berkaca-kaca.
Saat sinar surya merobek kalender,
Kupelajari cara berdesah panjang mengulum zaman.
Hari-hariku sepi, karena aku kubur seusai pemakaman.
Jiwaku perih tanpa bekas-bekas tergores.
Kepada Embun kepada Awan, Damai ada padamu saat fajar dan hujan.
Kusampaikan salam hormatku...
Semoga ketika kue ulang-tahun teriris lagi kelak,
peran sandiwara ini telah usai.
Karena aku tak hendak mengajukan keluhan, ke mahkamah agung dimana Tuhan bertahta
(Abdul Hamid Wahid)


7. Religi
Puisi Religi adalah puisi yang mempunyai unsur keagamaan, akidah, dan kepercayaan. Biasanya puisi ini banyak mengandung unsur ketuhanan dan agama.

Contoh puisi religi :

Hari ini…..
Nyanyian ketakutan kembali berguncang
Batinku bergemuruh
Suara malam mulai mengusik tidurku
Seolah berpesan padaku
Bangunlah dari tidurmu selama ini
Jangan kau sia-siakan hidup ini
Hidup hanya sekali
Ingat Rabb yang menciptakanmu
Kau hanya makhluk hina
Ketika dirimu berkata
ya, Rabb , hilangkan dari diri-diri ini
sifat sombong ? rabbmu berkata tidak d‘ tidak akan dihilangkan kau yang harus menyerahkannya kepadaku
renungkan awal dan akhir hidupmu
kita hanya makhluk-makhluk yang sedang menunggu mati
sudah siapkan menghadap tuhanmu, teruslah bertanya seperti itu
mudah-mudahan kau tersadarkan
jangan pernah merasa memiliki dan dimiliki kecuali merasa memiliki dan dimiliki oleh rabbmu
(Ira Miranda)

Ya Allah.....
Ampuni hambaMU yang tak berdaya ini
Yang selalu turuti hawa nafsu
Ada sedikit pengetahuan tertanam, memang
Tapi segunung ajakan kiri selalu menghantu

Ya Allah...
Hamba ingin jadi hambaMu sejati
Tapi mengapa.....?
Mengapa ruh kekuatan belum juga tiba
Mengapa diri ini masih yang dulu
Yang tak berkembang.......yang tak beranjak
Yang tak melaju menjemput masa depan
Mengapa diri ini masih berdiam diri
Takluk dalam genggam birahi...?

Ya Allah......
Sirami kepadanya cahaya kekuatanMU
Untuk mengusir bisikan-bisikan palsu
Menepis pikiran-pikiran tanpa etika
Biarkan ia menjadi lebih baik
Biarkan ia berbenah diri
Berikan padanya kesadaran, sebenar-benarnya kesadaran

Ya Allah....
Hanya ridhoMu yang abadi
Abadi dan sejati

Ya …Allah
Saksikan dan dukunglah
Niat hamba yang tak berdaya ini
untuk berubah dan memperbaiki diri
Hamba memang sering ingkar janji
Maka hamba minta..
MaafMu terbuka tiap waktu
(Cario Ramadhan)